2009/10/16

Perjalanan Sang Microfone




Di suatu sore yang indah dalam sebuah hiruk-pikuk aktivitas manusia. Aku hanya diam melihat kegiatan manusia. Bersandar di tempat yang nyaman yang dibatasi dengan kaca yang besar. Tidak bisa menyapa, bersenda gurau, berdialog, bahkan menggapai orang-orang di sekitar. Dalam hatiku mulai bertanya, “Sampai kapankah aku seperti ini?” aku pun mulai meringis, nampaknya tak akan bisa terobati walau seringkali banyak troubadur dan para penghibur lainnya yang datang. Di panti asuhan ini, bersama rekan-rekan dan para seniorku.
Mereka tidak tahu sebenarnya yang aku inginkan -memang nampak seperti autis- tak mau hatiku mulai berontak. Sangat ingin sekali aku mememcahkan kaca pemabatas ini. Karena aku juga memiliki cita-cita, ingin berkelana bercengkrama dengan semua orang. Aku hanya berdo’a mudah-mudahan ada tangan yang membatuku keluar dari sini.
Teman-temanku sudah mulai bepergian menghirup udara segar di luar sana. Bagaimana dengan aku??? Aku mulai tiada kawan di sini. Kawan terakhirku pergi siang tadi, dia menjadi seorang penghibur. Layaknya para penyanyi di tempat-tempat hiburan. Aku hanya bisa mengatakan “selamat tinggal” dan mengantarkan sampai pintu geser ini. Namun, ada satu kata-kata yang selalu aku ingat darinya.
read more...